Harga Batubara Dunia Melambung Tinggi Tembus USD 113,85 per Ton, Dampak Positif Sektor Pertambangan di Berau

KALIMANTAN TIMUR, – Harga batubara dunia kembali melesat, menembus level tertinggi dalam hampir tiga bulan terakhir. Hal ini, berdampak positif pada sektor pertambangan di Berau pada perdagangan global tercatat di level USD 113,85 per ton, naik 2,5% dibanding penutupan sebelumnya.

Kenaikan panjang tren positif ini sekaligus menjadikan pengusaha tambang batu bara di wilayah Berau cenderung kembali bergeliat di komoditas energi tersebut, hitungan gerafik nasional dengan penguatan mencapai 5,5% dalam tiga hari beruntun.

Sebagaimana dilansir dari cnbcIndonesia. Com bahwa Lonjakan harga batubara didorong oleh prospek permintaan yang menguat, terutama menjelang musim dingin di belahan bumi utara. Namun, pelaku pasar tetap berhati-hati lantaran negara-negara pembeli utama di Asia menunjukkan tanda-tanda pelemahan ekonomi.

Dari sisi kebijakan, China memberikan sinyal akan tetap mengandalkan pembangkit listrik berbasis batubara selama beberapa dekade ke depan, dengan target permintaan puncak baru pada 2030. Langkah ini membalikkan arah kebijakan sebelumnya yang sempat mengindikasikan percepatan pengurangan konsumsi batubara.

Sikap serupa juga terlihat di sejumlah negara Asia dan Eropa yang masih bergantung pada energi fosil, terutama akibat pasokan listrik yang fluktuatif serta meningkatnya permintaan energi dari pertumbuhan pusat data (data center).

Di tingkat domestik, harga batubara termal di wilayah tambang utama China seperti Inner Mongolia dan Shaanxi juga mengalami penguatan. Peningkatan tersebut dipicu oleh kenaikan permintaan musiman dari pembangkit listrik dan sektor pemanas, serta restocking oleh PLTU menjelang musim dingin.

Data SX Coal menunjukkan permintaan impor batubara dari Indonesia dan Rusia turut meningkat. Sementara itu, penawaran dari Australia masih terbatas karena fokus pada pasar premium dengan kadar tinggi.

Dari sisi pasokan, Indonesia diperkirakan menghadapi kondisi produksi yang lebih ketat pada November–Desember 2025 akibat curah hujan tinggi dan gangguan logistik di sejumlah wilayah tambang. Situasi tersebut memberikan dukungan tambahan terhadap harga global.

Dengan kombinasi faktor permintaan dan pasokan tersebut, analis memperkirakan tren kenaikan harga batubara akan bertahan dalam beberapa bulan ke depan, terutama selama periode musim dingin dan tingginya kebutuhan energi industri.

 

(*/Red)

error: Content is protected !!