BERAU, WartaBerau.id -Akrab panggilan Bang Har wartawan tergolong Senior, Penulis Artikel di beberapa media Nasional, ia berdomisili di luar Berau.
Sepekan ini ia membaca buku berjudul “Andaikan Saya Wartawan Koboi”.
Buku itu karya Yos Darmawan. Terbit tahun 2004. Sudah lama. Tapi masih relevan.
“Saya membacanya pelan-pelan. Satu bab sehari. Kadang dua. Kadang berhenti, lalu berpikir,” celetuknya.
Buku ini bercerita tentang wartawan yang tidak takut. Wartawan yang menulis dengan hati. Wartawan yang tidak tunduk pada pemilik modal atau kepentingan politik dan pemerintah.
Tapi dunia jurnalistik tidak sesederhana itu.
Ada idealisme. Tapi ada juga kenyataan. Media butuh uang. Wartawan butuh makan. Tidak semua bisa bertahan dengan idealisme.
“Saya ingat satu bagian dalam buku ini. Tentang bagaimana media berubah. Dulu, berita adalah raja. Sekarang, iklan adalah raja,” ujarnya.
Dulu, wartawan mencari kebenaran. Sekarang, banyak yang dicari salahnya.
Sesaat dia berhenti membaca. Merenung.
“Andai saya wartawan koboi, apakah saya bisa bertahan?,”tekannya.
“Saya ingat cerita beberapa teman dari para senior. Wartawan yang dipanggil polisi karena berita mereka. Wartawan yang di coba bungkam karena terlalu kritis. Wartawan yang memilih diam karena takut,” ujarnya kembali disaat langit akan sore, Minggu (23/3/2025).
Seketika dia berhenti membaca dan beralih dengan membaca pada buku yang lain. Entah apa yang ada di benaknya. Tapi sudahlah.
Saya lanjut membaca dari halaman buku yang terbuka, saat terhenti di baca oleh bang Har, ini buku tulisan Yos Darmawan menulis dengan jujur. Tidak menggurui. Ia hanya menunjukkan kenyataan.
Lalu saya bergumam bertanya sendiri: masih adakah wartawan koboi hari ini?
Mungkin ada. Tapi tidak banyak.
Saya menutup buku. Saya tahu satu hal. Wartawan koboi itu langka. Dan dunia butuh lebih banyak dari mereka.
Saya ingat zaman dulu. Saat wartawan masih dicari. Saat berita masih dicetak di koran pagi.
Dulu, menjadi wartawan itu keren. Bisa masuk ke tempat-tempat yang tidak semua orang bisa masuk. Bisa bertemu orang-orang penting. Bisa menulis sesuatu yang mengubah dunia.
Sekarang? Dunia dengan perubahan
Berita gratis. Semua orang bisa menulis. Semua orang bisa menyebar berita. Bahkan yang bukan wartawan sekalipun.
Tapi justru karena itu, jurnalisme semakin sulit.
Wartawan tidak untuk bersaing dengan sesama sejawat agar lebih baik. Terkini mereka bersaing dengan media sosial. Dengan influencer. Dengan algoritma.
Sekarang, bukan lagi berita terbaik yang menang. Tapi berita yang paling cepat terbit.
Bukan lagi tulisan yang berbobot yang dibaca. Tapi yang judulnya paling menarik.
Lalu, di mana wartawan koboi dalam dunia seperti ini?
Jurnalisme nah kan…
Buku ini juga mengingatkan saya pada satu hal lain, jurnalisme itu tidak pernah aman.
Dari dulu, wartawan selalu berhadapan dengan banyak hal bahkan terkadang terdengar mencekam.
Ada yang diancam. Ada yang dipenjara. Ada yang dibungkam.
Tapi sekarang, ancamannya lebih halus.
Tidak perlu lagi membungkam wartawan dengan cara kasar. Cukup dengan ada pasal. Cukup dengan gugatan hukum. Cukup dengan pemecatan.
Atau, cukup dengan membuat mereka lelah.
Banyak wartawan yang akhirnya menyerah. Tidak karena takut. Tapi karena lelah. Lelah berjuang sendirian.
Saya ingat Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam The Elements of Journalism. Mereka bilang di beberapa tulisannya bahwa tugas wartawan adalah kepada kebenaran dan kepada kepentingan publik.
Tapi apa yang terjadi jika di ruang publik sendiri tak sedikit untuk tidak sepakat peduli?
Apa gunanya wartawan yang berjuang, kalau yang mereka perjuangkan tidak dianggap penting?
Saya jadi tertarik kembali membaca.
Yos Darmawan menulis dengan ringan, tapi isinya berat.
Buku ini bukan hanya tentang wartawan. Tapi tentang dunia dengan perubahan.
Menjadi Wartawan Koboi
Saya tutup buku itu.
Lalu berpikir: andai saya wartawan koboi, apa yang akan saya lakukan?
Mungkin saya akan tetap menulis.
Mungkin saya akan tetap mencari kebenaran.
Mungkin saya selalu dijalur memgkritisi.
Tapi saya tahu, itu tidak mudah.
Saya ingat kisah beberapa wartawan. Ada yang tetap berjuang, meski tahu risikonya. Ada yang memilih jalan lain, karena tahu dunia tidak selalu berpihak pada mereka.
Lalu, saya bertanya pada diri sendiri: apakah saya bisa jadi wartawan koboi?
Saya tidak tahu.
Tapi saya tahu satu hal. Dunia butuh lebih banyak wartawan koboi.
Mereka yang tetap menulis. Walau tahu risikonya.
Mereka yang tetap mencari kebenaran. Walau tahu itu tidak selalu membawa keuntungan.
Mereka yang tetap percaya bahwa jurnalisme adalah panggilan, bukan sekadar pekerjaan.
Saya menyeruput teh. Bukan kopi. Karena saya bukan tidak minum kopi lagi. Bukan juga tidak puasa, Tapi waktu berbuka memang sudah tiba, itulah kenyataan.
Salam Media Digital…













